Kenapa Sekolah Gak Ajarin Segalanya?
![]() |
| Kenapa Sekolah Gak Ngajarin Segalanya? | YouTube : Luth7x |
Pertanyaan 1: Kenapa sekolah gak
ngajarin segalanya?
Sekolah gak ngajarin segalanya
karena ada beberapa faktor sebagai alasannya, diantaranya yaitu:
- Waktu yang terbatas:
Sekolah hanya punya waktu yang terbatas untuk mengajari siswa. Jadi,
sekolah harus memilih topik-topik yang dianggap penting untuk dipelajari para siswanya untuk mengefektifkan waktu yang ada.
- Kemampuan guru: Guru juga memiliki
kemampuan yang terbatas. Jadi, sekolah harus menyesuaikan kurikulum dengan
kemampuan guru.
- Kebutuhan dan prioritas masyarakat:
Sekolah juga harus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dan prioritas yang
ada masyarakat. Agar apa yang diberikan bisa diterapkan langsung oleh siswa di lingkungannya.
Jadi, sekolah tidak dapat mengajarkan segalanya karena adanya beberapa faktor pembatas. akibatnya, sekolah harus memilih topik yang dianggap penting dan relevan untuk dipelajari siswa agar waktu yang tesedia dapat dimanfaatkan secara efektif, menyesuaikan kurikulum dengan kemampuan guru dan kebutuhan serta prioritas di masyarakat.
Contohnya, kalian akan kesulitan memperoleh ilmu geografi di lingkungan tempat tinggalkan kalian, sehingga sekolah menghadirkan pelajaran tersebut dengan menyediakan tempat, guru, dan kurikulum.
Pertanyaan 2: Kenapa sekolah mengajarkan
pelajaran yang jarang dapat digunakan langsung di dunia nyata?
Sekolah mengajarkan pelajaran
yang jarang dapat digunakan langsung di dunia nyata karena pelajaran-pelajaran
tersebut penting untuk mengembangkan keterampilan umum dan dasar, seperti:
- Kritisisme: kemampuan yang membantu siswa
untuk berpikir kritis dan menganalisis informasi.
- Analisis: kemampuan yang membantu siswa
untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan.
- Percaya diri: kemampuan yang membantu siswa
untuk percaya diri dengan kemampuan mereka.
- Komunikasi: kemampuan yang membantu siswa
untuk berkomunikasi secara efektif.
Jika kalian tidak mampu untuk menerapkannya secara langsung di kehidupan nyata, setidaknya pelajaran-pelajaran tersebut meningkat kemampuan kalian yang lainnya. Contohnya, dengan kalian mempertanyakan kegunaan pelajaran-pelajaran tersebut, maka kalian sudah mulai melakukan tahapan dalam berpikir kritis. Karena pelajaran-pelajaran tersebut secara tidak langsung memaksa kalian melakukannya.
Selain itu, pelajaran-pelajaran
yang jarang dapat digunakan langsung di dunia nyata juga penting untuk
mengembangkan keterampilan siber-savvy, yaitu kemampuan untuk menggunakan
teknologi dan mengelola informasi di era digital secara aman dan efektif. Karena perubahan akan terus terjadi dalam hidup kita, maka pelajaran dan kegiatan pembelajaran juga akan menyesuaikan dengan menggunakan teknologi digital terbarukan.
Pertanyaan 3: Apakah belajar melalui media
internet dapat menggantikan pembelajaran di sekolah?
Belajar melalui media internet
tidak dapat menggantikan pembelajaran di sekolah secara utama. Media internet
dan pembelajaran di sekolah memiliki peranan yang berbeda.
Media internet memiliki potensi
untuk menambah dan mengenali pembelajaran di sekolah. Pelajar dapat menggunakan
media internet untuk mengakses informasi, melakukan penelitian, dan menghubungi
komunitas serta orang-orang lain dari berbagai tempat di dunia. Media internet
juga dapat digunakan untuk menyediakan materi belajar interaktif, video, dan
animasi yang dapat membantu pelajar untuk memahami konsep-konsep yang sulit
untuk dipahami melalui pembelajaran tradisional.
Namun, pembelajaran di sekolah
memiliki peranan yang lebih utama dalam menghasilkan pelajar yang siber-savvy,
kritis, dan kompetitif. Pembelajaran di sekolah memungkinkan pelajar untuk
mengembangkan keterampilan umum dan dasar, seperti kritis, analisis, percaya
diri, dan komunikasi. Pembelajaran di sekolah juga memungkinkan pelajar untuk
menghasilkan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi pekerjaan dan
persyaratan dalam masyarakat.
Jadi, media internet dan
pembelajaran di sekolah harus digunakan secara terpadu untuk menghasilkan
pelajar yang siber-savvy, kritis, dan kompetitif. Media internet dapat
digunakan untuk menambah dan mengenali pembelajaran di sekolah, sedangkan
pembelajaran di sekolah harus dilaksanakan secara tradisional untuk
menghasilkan pelajar yang siber-savvy, kritis, dan kompetitif.
Pertanyaan 4: Apakah mengikuti les lebih
efektif dibadingkan mengikuti sekolah formal?
Les akan lebih efektif dalam
menghasilkan pelajar yang memiliki keterampilan tertentu, seperti bahasa asing,
matematika, dan ilmu pengetahan. Les juga dapat digunakan untuk menghasilkan
pelajar yang siber-savvy, karena pelajar dapat menggunakan teknologi dan
mengelola informasi di era digital.
Namun, mengikuti sekolah formal
akan lebih efektif dalam menghasilkan pelajar yang memiliki keterampilan umum
dan dasar, seperti kritisisme, analisis, percaya diri, dan komunikasi. Pelajar
di sekolah akan mengalami pembelajaran yang terstruktur dan terintegrasi,
dengan materi yang disusun secara sistematis dan berurutan. Pelajar juga akan
mengalami pembelajaran yang dilakukan oleh guru profesional dan dapat
mendapatkan bantuan dan pendampingan secara langsung.
Kesimpulan:
Sekolah tidak mengajarkan
segalanya karena ada beberapa faktor, yaitu waktu yang terbatas, kemampuan
guru, kebutuhan dan prioritas masyarakat.
Pelajaran yang jarang dapat
digunakan langsung di dunia nyata, ternyata penting untuk mengembangkan
keterampilan umum dan dasar, serta siber-savvy.
Belajar melalui media internet
tidak dapat menggantikan pembelajaran di sekolah secara utama.
Mengikuti les lebih efektif untuk menghasilkan pelajar yang memiliki keterampilan tertentu, namun mengikuti sekolah formal akan lebih efektif dalam menghasilkan pelajar yang memiliki keterampilan umum dan dasar.
Jangan lupa isi kolom komentar jika ada hal yang ingin kalian sampaikan atau diskusikan. Dan silahkan subscribe channel aku, untuk konten menarik lainnya.
Terima kasih sudah berkunjung.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Dan bye-bye.^^

Komentar
Posting Komentar