Langsung ke konten utama

5 Mitos Seputar Literasi di Indonesia

 Nilai literasi Indonesia pada tahun 2022 mengalami peningkatan, namun dalam beberapa artikel menyebutkan jika nilai literasi Indonesia ini masih dikategorikan rendah. Sehingga masih diperlukan upaya untuk meningkatkannya. Dalam upaya peningkatan nilai literasi ini tentunya harus diimbangi oleh pemahaman yang lebih mendalam. Jangan sampai mitos-mitos seputar literasi ini tetap digunakan. Apa saja mitosnya? Apa penyebabnya? Dan bagaimana faktanya?

Ternyata dunia literasi juga tidak luput dari Mitos yang menyertai. Ada mitos apa saja yang beredar di masyarakat seputar literasi?

1. Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis

Kebanyakan orang tentunya mengenal literasi sebagai kegiatan membaca dan menulis. Nyatanya, literasi lebih dari itu.

Dikutip dari melintas.id, literasi juga mencakup pemahaman, analisis, dan penggunaan informasi dalam berbagai konteks, termasuk literasi digital dan literasi numerik.

Aku juga sempet ngebahas singkat tentang literasi digital yang bisa kalian cek videonya di deskripsi.

Literasi juga termasuk keterampilan berbicara, menyimak, memirsa, menampilkan dan memadukan. Sekilas apa yang aku sampaikan mengenai cakupan literasi ini terdapat dalam taksonomi bloom dalam tujuan pembelajaran.

Literasi terkait dengan kemampuan seseorang dalam berpikir tentang teks multimoda sehingga ia dapat menggunakan informasi dan makna teks tersebut dalam kehidupannya.

2. Literasi menjamin naikkan nilai seseorang

Dilansir the Jakarta post, bahwa literasi secara otomatis menjamin mobilitas sosial vertikal adalah mitos. Dalam artikel tersebut, dinyatakan mitos ini terjadi lantaran kesempatan pendidikan di Indonesia tidak didistribusikan secara merata. Dimana hal ini bisa kalian rasakan dan lihat saat pandemi COVID-19, akses dan distribusi sumber belajar sangat yang tidak merata selama penutupan sekolah. Anak-anak dari keluarga miskin kehilangan lebih banyak pembelajaran daripada anak-anak dari keluarga kaya. Mitos literasi diperburuk oleh pemahaman yang berlaku di Indonesia bahwa literasi hanya sekedar melafalkan huruf dan kata. Pendekatan fonemik telah menjadi tujuan akhir, alih-alih dilihat sebagai fondasi pertama dalam kontinum literasi.

3. Baca apa aja bisa tingkatkan literasi

Dari cakupan literasi yang sempat aku sampaikan tadi, tentunya bacaan yang digunakan haruslah disesuaikan. Dan sebagai seseorang yang memiliki hobi membaca, terutama fiksi, aku sering kali merasa tidak nyaman saat orang-orang beranggapan jika aku tahu banyak hal, dan dengan mudahnya menyuruhku untuk memahami sesuatu. Jangan lagi nganggap semua buku yang dibaca bisa meningkatkan kemampuan literasi.

Kualitas bacaan dan aksi yang dilakukan lebih penting.

4. Literasi hanya tentang Pendidikan dan Kebudayaan

Bisa gak kalian ketik 5 emoji yang menunjukkan emosi tertentu di kolom komentar? Aku kasih waktu 5 detik deh!

Oke! Dari kelima emoji itu, kalian pasti bisa menyebutkan masing-masing emosi yang diwakilkan. Darimana kalian tahu?

Kalian biasa berhadapan dengan banyak orang, menemukan banyak ekspresi, hingga memvalidasinya ke dalam beberapa kategori. Dan aku pikir itu sudah termasuk ke dalam literasi.

Kalo kalian baca sebuah dialog dengan teks berhuruf kapital, emosi atau ekspresi apa yang diwakili? Marah? Teriak? Terkejut?

Oke itu masih tentang kebudayaan, bagaimana dengan bidang ekonomi?

Kalian pernah bandingin harga suatu produk dari merek yang berbeda? Itu merupakan salah satu contoh literasi ekonomi mengenai pengambilan keputusan pembelian. Ada juga kegiatan lain seperti menabung, berinvestasi, mengelola anggaran, mengenali inflasi, memahami pajak, keputusan melakukan kredit, perencanaan pensiun, dan sejenisnya.

Mengapa termasuk ke dalam literasi? Karena terdapat proses pemahaman, analisis, hingga penggunaan informasi dari berbagai aspek.

Bagaimana kalo kalian coba untuk melakukan literasi kesehatan? Aku tantang kalian untuk baca informasi nilai gizi yang biasanya ada di kemasan makanan, apa yang bisa kalian simpulkan?

5. Semakin tinggi nilai literasi nya, semakin rajin orangnya

Anggapan bahwa semakin tinggi nilai literasi seseorang, maka semakin rajin orang tersebut adalah sebuah kesalahpahaman yang umum. Meskipun literasi dan kerajinan memiliki keterkaitan, keduanya merupakan konsep yang berbeda.

Literasi lebih mengacu pada kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi. Ini mencakup berbagai jenis literasi, seperti literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerik, dan sebagainya.

Kerajinan di sini mengacu pada ketekunan, disiplin, dan kebiasaan untuk melakukan sesuatu secara teratur.

Mengapa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar?

Seseorang bisa sangat cerdas dan memiliki literasi tinggi, namun kurang memiliki motivasi atau disiplin untuk melakukan sesuatu secara teratur. Selain literasi, faktor lain seperti kepribadian, lingkungan sosial, motivasi, dan kondisi kesehatan juga sangat mempengaruhi tingkat kerajinan seseorang.

Meskipun keduanya saling melengkapi, literasi lebih fokus pada kemampuan kognitif, sedangkan kerajinan lebih terkait dengan perilaku dan kebiasaan.

Contoh:

  • Seorang penulis novel terkenal mungkin memiliki literasi yang sangat tinggi, namun mungkin memiliki kebiasaan menunda-nunda pekerjaan.
  • Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi mungkin memiliki tingkat kerajinan yang sangat tinggi karena harus bekerja keras setiap hari untuk menafkahi keluarganya.


Sumber lainnya:

https://www.kompas.id/baca/opini/2023/11/16/mitos-literasi-dan-kemalasan

Komentar

Postingan Paling Populer

4 Hal Yang Gak Diajarin Di Sekolah : Tapi Penting Buat Kalian!

4 HAL YANG GAK DIAJARIN DI SEKOLAH Konten YouTube Saya Yang Membahas Hal Serupa | YouTube: Luth7x

5 Kesalahan Membaca yang Bisa Menghambat Pemahaman

 Pernahkah kamu merasa sudah membaca suatu teks berulang kali, tapi tetap tidak mengerti juga isinya? Atau, kamu membaca dengan cepat, tapi lupa apa yang baru saja dibaca? Kali ini, kita akan membahas 5 kesalahan membaca yang paling umum dan bagaimana cara mengatasinya. Dengan mengetahui kesalahan-kesalahan ini dan memperbaikinya, kamu akan bisa membaca lebih efektif dan memahami informasi dengan lebih baik. *** Membaca adalah keterampilan penting yang kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari belajar, bekerja, hingga mencari informasi, semuanya membutuhkan kemampuan membaca yang baik. Namun, kenyataannya, tidak semua orang memiliki teknik membaca yang efektif. Banyak orang melakukan kesalahan saat membaca yang membuat mereka sulit memahami informasi yang disampaikan. Kesalahan-kesalahan ini bisa berupa kebiasaan buruk yang sudah lama terbentuk atau kurangnya pemahaman tentang cara membaca yang benar.

Kenapa Sekolah Gak Ajarin Segalanya?

  Kenapa Sekolah Gak Ajarin Segalanya? Kenapa Sekolah Gak Ngajarin Segalanya? | YouTube : Luth7x CATATAN LUTH  -  Mungkin judulnya terdengar hiperbola, jadi mau aku disclimer dulu. Maksud kata 'segalanya' di sini adalah hal-hal penting yang sempat aku bahas minggu lalu. Kalo kalian belum baca artikelnya , silahkan baca dulu biar gak salah paham. Pertanyaan 1: Kenapa sekolah gak ngajarin segalanya? Sekolah gak ngajarin segalanya karena ada beberapa faktor sebagai alasannya, diantaranya yaitu: Waktu yang terbatas : Sekolah hanya punya waktu yang terbatas untuk mengajari siswa. Jadi, sekolah harus memilih topik-topik yang dianggap penting untuk dipelajari para siswanya untuk mengefektifkan waktu yang ada. Kemampuan guru : Guru juga memiliki kemampuan yang terbatas. Jadi, sekolah harus menyesuaikan kurikulum dengan kemampuan guru. Kebutuhan dan prioritas masyarakat : Sekolah juga harus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dan priorit...