| Multitasking hanyalah mitos | YouTube Luth7x |
***
Pernah kepikiran nggak sih, sekarang ini rasanya banyak banget orang yang jadi multitasking?
Mulai di kantor, di rumah, bahkan di jalanan. Kayak hampir semua orang sibuk melakukan beberapa hal sekaligus. Ada yang sambil mengetik di laptop, sambil menjawab telepon, dan sesekali melirik layar ponsel. Atau, mungkin kamu sendiri salah satunya?
Fenomena Multitasking di Era Modern
Fenomena multitasking ini memang semakin marak di era modern. Tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi, ditambah dengan pesatnya perkembangan teknologi, membuat kita seolah dituntut untuk bisa melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Tapi, apakah multitasking itu benar-benar efektif?
Pengertian Multitasking
Secara sederhana, multitasking adalah kemampuan untuk melakukan beberapa tugas dalam waktu yang bersamaan atau berganti-ganti antar tugas dengan cepat. Namun, penting untuk diingat bahwa otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk melakukan banyak hal sekaligus. Ketika kita merasa sedang multitasking, sebenarnya otak kita sedang berganti-ganti fokus antar tugas dengan sangat cepat. Sehingga ada beberapa artikel yang menyebutkan jika multitasking hanyalah mitos. Bagaimana menurutmu?
Siapa Saja yang Sering Multitasking?
Aku juga penasaran sebenarnya siapa aja sih yang sering melakukan multitasking.
Dilansir dari laman BBC, sebuah penelitian dari psikolog Inggris menemukan bahwa wanita lebih cepat dan terorganisir daripada pria saat beralih antar tugas dengan cepat. Meskipun keduanya kesulitan menyeimbangkan prioritas, pria rata-rata lebih lambat dan kurang terorganisir.
Temuan utama dari penelitian tersebut didasarkan pada beberapa poin.
1. Pergantian Tugas Cepat
Dalam tes komputer yang melibatkan peralihan cepat antara tugas perhitungan dan pengenalan bentuk, pria membutuhkan waktu 77% lebih lama untuk merespons dibandingkan wanita yang 69% lebih lama.
2. Tugas Kehidupan Nyata
Dalam simulasi tugas kehidupan nyata (menemukan restoran di peta, soal matematika, panggilan telepon, mencari kunci hilang) keduanya diberi waktu 8 menit, wanita menunjukkan keunggulan yang jelas, terutama dalam pencarian kunci. Wanita cenderung lebih metodis dan terorganisir, sementara pria lebih impulsif.
3. Prioritas dan Tekanan
Wanita dinilai lebih mampu memprioritaskan, mengatur waktu, dan tetap tenang di bawah tekanan.
Disebutkan bahwa temuan ini dapat berdampak pada pengaturan tempat kerja, mengingat pentingnya multitasking. Penelitian ini menyoroti perbedaan gender dalam kemampuan multitasking, meskipun tidak mengklaim bahwa semua wanita lebih baik atau semua pria lebih buruk. Penting juga untuk mempertimbangkan penilaian kemampuan individu dalam mengerjakan banyak tugas sekaligus, karena penilaian diri sendiri seringkali tidak akurat.
Sedangkan berdasarkan usia ataupun generasi aku belum dapat memastikan siapa yang paling sering melakukan multitasking. Namun jika dilihat dari masa produktif dan perkembangan teknologi, maka usia dan generasi muda cenderung yang paling multitasking. Hal ini sejalan dengan semakin canggihnya teknologi maka kemungkinan melakukan banyak hal sekaligus semakin besar. Generasi muda yang tentunya lebih mengenal teknologi secara tidak langsung dituntut untuk ikut menjadi multitasking.
Tapi bagaimana menurutmu?
Sejarah Singkat Multitasking
Sebenarnya, praktik melakukan beberapa tugas sekaligus ini bukan hal yang benar-benar baru. Sejak zaman dahulu, manusia sudah terbiasa melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu, misalnya bercocok tanam sambil mengasuh anak. Namun, istilah "multitasking" sendiri baru populer di era komputer, ketika komputer mulai bisa menjalankan beberapa program secara bersamaan.
Menurut profesor madya antropologi, Monica L. Smith yang juga menulis buku tentang sejarah panjang multitasking. Ia menyampaikan jika kemampuan multitasking adalah yang membuat kita menjadi manusia, karena makhluk hidup lain tidak bisa melakukannya.
Smith menganggap jika melakukan banyak tugas sekaligus merupakan hasil rekam jejak inovasi yang luar biasa dari nenek moyang kita.
Orang-orang mungkin berpikir jika masa lalu adalah masa yang lebih sederhana dengan lebih sedikit gangguan dibandingkan masa sekarang yang penuh dengan teknologi. Namun, Smith berpendapat bahwa kemampuan multitasking (melakukan banyak tugas sekaligus) sudah ada sejak jutaan tahun lalu, dimulai ketika nenek moyang manusia mulai berjalan dengan dua kaki. Hal ini membebaskan kedua tangan mereka untuk membawa barang atau anak, sambil mata mereka mengawasi lingkungan sekitar.
Perkembangan Multitasking
Dikutip dari laman pshy.org, saat manusia mulai membuat alat sekitar 1,5 juta tahun lalu, multitasking menjadi lebih penting. Mereka mencari makan sambil mencari bahan untuk membuat alat.
Perubahan iklim sekitar 10.000-12.000 tahun lalu mendorong manusia untuk bertani dan beternak, yang meningkatkan kebutuhan multitasking karena kompleksitas siklus hidup tanaman dan hewan.
Ketika manusia mulai hidup di kota sekitar 6.000 tahun lalu, tuntutan multitasking semakin tinggi, mirip dengan kehidupan kita sekarang.
Untuk mendukung teorinya, Smith menggabungkan bukti dari arkeologi (penemuan artefak) dan antropologi (studi masyarakat tradisional). Secara biologis, multitasking memungkinkan otak untuk menghemat energi dan fokus pada tugas-tugas penting. Multitasking juga mendorong inovasi, karena manusia sering kali kembali ke tugas yang belum selesai dengan ide-ide baru.
Motivasi yang Memicu Multitasking
Terus apa sih yang memotivasi atau mendorong seseorang melakukan banyak hal sekaligus. Kita sering mencoba melakukan banyak hal sekaligus (multitasking), padahal penelitian menunjukkan itu tidak efektif. Dilansir dari Psychology Today berikut beberapa alasan kenapa orang multitasking:
1. Anggapan Pekerja Harus Multitasking
Banyak perusahaan mencari karyawan yang bisa multitasking, karena menganggap itu berarti cepat tanggap. Padahal, multitasking justru menurunkan produktivitas dan kreativitas. Perusahaan mencari orang yang bisa mengatur banyak pekerjaan dalam sehari, bukan yang mencoba melakukan semuanya sekaligus.
2. Kemudahan Teknologi
Semua informasi ada di ujung jari, mudah diakses lewat ponsel. Kita berpikir "sebentar saja," tapi gangguan ini bisa membuat kita kehilangan fokus dan butuh lebih dari 20 menit untuk kembali fokus.
3. Ketidaksabaran
Kita terbiasa dengan informasi instan dari internet. Kita jadi tidak sabar dan mudah teralihkan, bahkan saat mendengarkan orang berbicara. Fokus yang mendalam diperlukan untuk produktivitas dan kreativitas, tapi kita sulit mencapainya.
4. Mitos Multitasking Generasi Muda
Waduh baru aja aku bilang generasi muda paling multitasking tapi udah disebut mitos. Kenapa ya? Anggapan bahwa generasi muda lebih baik dalam multitasking karena terbiasa dengan teknologi. Memang, memori kerja (penting untuk multitasking) mencapai puncaknya di usia 25 tahun, jadi generasi muda mungkin lebih sedikit kehilangan informasi saat beralih tugas. Namun, penelitian menunjukkan bahwa mereka juga tetap kehilangan informasi dan menjadi lebih lambat. Penelitian di Stanford juga menunjukan bahwa orang yang sering melakukan multitasking, justru memiliki hasil yang lebih buruk.
5. Kebosanan
Multitasking sering dilakukan karena kita bosan dengan pekerjaan yang ada. Kita mencoba melakukan hal lain (misalnya, menonton TV) agar pekerjaan terasa tidak membosankan. Akibatnya, pekerjaan jadi lebih lama selesai dan kualitasnya buruk, dan kita juga tidak menikmati hiburan dengan maksimal.
Mitos Produktivitas atau Pembunuh Efisiensi?
Banyak orang bangga bisa mengerjakan banyak tugas sekaligus (multitasking), merasa itu produktif dan efisien. Namun, penelitian menunjukkan sebaliknya, multitasking sebenarnya bisa menghambat produktivitas.
Dikutip dari verywellmind, berikut alasan mengapa multitasking tidak efektif:
1. Mengalihkan Fokus
Otak tidak bisa melakukan banyak tugas sekaligus. Kita sebenarnya hanya beralih cepat dari satu tugas ke tugas lain (pengalihan tugas). Ini mengganggu fokus, membuat kita sulit mengabaikan gangguan, dan memperlambat kinerja.
2. Mengganggu dan Memperlambat
Multitasking membuat kita lebih mudah terganggu dan sulit fokus, bahkan saat tidak multitasking. "Biaya pergantian tugas" membuat kita bekerja lebih lambat karena tuntutan mental saat beralih tugas. Mengubah fokus mencegah kita menggunakan autopilot otak untuk menyelesaikan tugas dengan cepat.
3. Mengganggu Fungsi Eksekutif Otak
Multitasking mengganggu fungsi eksekutif otak, yang mengendalikan proses kognitif. Ini menyebabkan kesalahan dan menurunkan kinerja.
4. Menurunkan Kemampuan Kognitif
Orang sering melebih-lebihkan kemampuan multitasking mereka. Pelaku multitasking sering impulsif, meremehkan risiko, dan mudah teralihkan.
Cara Menghentikan Kebiasaan Multitasking
1. Batasi Tugas
Fokus pada satu tugas dalam satu waktu. Jika perlu multitasking, gabungkan tugas otomatis yaitu tugas yang sudah menjadi kebiasaan dan tidak memerlukan banyak pemikiran atau konsentrasi, dengan tugas yang membutuhkan fokus.
2. Gunakan "Aturan 20 Menit": Fokus penuh pada satu tugas selama 20 menit sebelum beralih.
3. Kelompokkan Tugas: Jadwalkan waktu khusus untuk tugas-tugas tertentu (misalnya, memeriksa email).
Kesimpulan
Multitasking mungkin terasa produktif, tetapi sebenarnya menghambat efisiensi. Fokus pada satu tugas dalam satu waktu adalah cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas.
Sekian pembahasan tentang multitasking. Jangan lupa untuk cek dan subscribe channel YouTube aku @Luth7x.
Terima kasih,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
dan bye-bye.
***
Sumber:
https://www.mountelizabeth.com.sg/id/health-plus/article/multitasking-debunked
https://phys.org/news/2010-12-multitasking-prehistoric-ancestors.html
https://www.thenewatlantis.com/publications/the-myth-of-multitasking
Komentar
Posting Komentar