Langsung ke konten utama

Asal Usul Kita Suka Makanan Manis

Sejarah Kenapa Kita Suka Makanan Manis| YouTube @luth7x

Coba kita bayangkan kehidupan nenek moyang kita ratusan ribu tahun silam. Dunia mereka jauh berbeda dengan kenyamanan supermarket dan restoran cepat saji yang kita nikmati sekarang. Setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup, dan sumber makanan adalah sesuatu yang harus dicari dan didapatkan dengan susah payah. Energi adalah mata uang utama, dan tubuh mereka secara insting mencari cara paling efisien untuk mendapatkannya.

Di lanskap purba yang didominasi hutan, padang rumput, dan pegunungan, sumber makanan yang kaya kalori tidaklah melimpah. Daging hasil buruan adalah sumber protein dan lemak yang penting, namun seringkali tidak mudah didapatkan dan membutuhkan energi besar untuk memperolehnya. Di sisi lain, tumbuhan menjadi sumber karbohidrat dan nutrisi lainnya. Namun, tidak semua tumbuhan aman untuk dikonsumsi, dan kemampuan untuk membedakan mana yang beracun dan mana yang bergizi adalah keterampilan penting untuk bertahan hidup.

Di tengah keterbatasan ini, rasa manis muncul sebagai penanda yang sangat berharga. Rasa manis secara alami hadir dalam buah-buahan yang telah mencapai kematangan optimal. Proses pematangan ini mengubah kandungan pati yang kompleks menjadi gula sederhana seperti fruktosa dan glukosa. Gula-gula ini adalah sumber energi yang cepat dan mudah dicerna oleh tubuh. Bagi manusia purba yang membutuhkan energi instan untuk aktivitas sehari-hari seperti berburu, meramu, dan berpindah tempat, kemampuan untuk mengenali dan tertarik pada rasa manis memberikan keuntungan evolusioner yang signifikan.

Selain buah-buahan, sumber rasa manis lainnya yang mungkin ditemukan oleh manusia purba adalah madu liar. Sarang lebah yang tersembunyi di celah batu atau lubang pohon menyimpan cairan manis yang sangat kaya akan kalori. Meskipun sulit dan berisiko untuk didapatkan (harus berhadapan dengan lebah), madu menjadi sumber energi yang sangat dihargai. Bahkan, jejak-jejak arkeologis menunjukkan bahwa manusia purba telah mencari dan mengonsumsi madu sejak puluhan ribu tahun yang lalu.

Beberapa jenis umbi-umbian juga mengandung karbohidrat yang bisa terasa sedikit manis setelah dimasak. Proses memasak membantu memecah pati menjadi gula yang lebih sederhana, meningkatkan rasa manis dan juga memudahkan pencernaan. Kemampuan untuk mengidentifikasi umbi-umbian yang aman dan bergizi juga menjadi bagian penting dari pengetahuan bertahan hidup manusia purba.

Ketertarikan pada rasa manis bukanlah sekadar preferensi acak. Ini adalah hasil dari seleksi alam selama jutaan tahun. Individu yang memiliki kepekaan terhadap rasa manis dan merasa tertarik untuk mengonsumsinya cenderung mendapatkan asupan kalori yang lebih tinggi, yang meningkatkan peluang mereka untuk memiliki energi yang cukup untuk bertahan hidup, menghindari kelaparan, melawan penyakit, dan yang paling penting, bereproduksi dan mewariskan gen mereka. Dengan demikian, preferensi terhadap rasa manis menjadi semakin kuat dan tertanam dalam gen manusia modern.

***

Setelah kita sedikit mengintip kerasnya kehidupan purba, sekarang kita bedah satu per satu nih, kenapa rasa manis itu jadi sepenting itu buat mereka, dan kenapa dampaknya masih terasa sampai sekarang.

1. Sumber Manis di Alam Purba: "Harta Karun" Energi Nenek Moyang Kita

Bayangkan diri kita jadi detektif rasa di zaman purba. Apa aja sih "harta karun" manis yang bisa ditemuin nenek moyang kita? Jawabannya ternyata cukup beragam, meskipun jauh dari kue tart dan boba kekinian ya!

Sumber utama rasa manis tentu saja datang dari buah-buahan liar yang matang. Proses pematangan buah adalah keajaiban alam. Tadinya asam dan keras, perlahan berubah menjadi lembut dan manis karena kandungan patinya dipecah menjadi gula sederhana seperti fruktosa dan glukosa. Buah-buahan seperti beri-berian liar (blueberry, raspberry, strawberry hutan), apel hutan, ara liar, dan kurma hutan menjadi sumber energi instan yang sangat berharga.

Tahukah kamu? Rasa manis pada buah matang bukan cuma enak, tapi juga jadi "lampu penunjuk" bagi hewan dan manusia purba bahwa buah tersebut aman dan kaya nutrisi. Warna cerah buah matang juga jadi sinyal visual yang menarik.

Selain buah, ada lagi nih "emas cair" dari alam: madu liar. Sarang lebah yang dibangun di celah-celah batu, batang pohon, atau bahkan di tanah, menyimpan madu yang super kaya kalori. Mendapatkan madu tentu bukan perkara mudah. Harus berani menghadapi sengatan lebah, dan seringkali harus menggunakan alat sederhana untuk menjangkau sarang. Tapi, rasa manis dan kandungan energinya yang tinggi membuat madu menjadi buruan yang sangat berharga.

Sumber manis lainnya yang mungkin tidak terlalu intens tapi tetap berkontribusi adalah beberapa jenis umbi-umbian dan akar tanaman setelah dimasak. Proses memasak membantu memecah karbohidrat kompleks menjadi gula yang lebih sederhana, sehingga memberikan rasa manis yang lebih terasa dan juga lebih mudah dicerna. Contohnya beberapa jenis ubi liar atau akar-akaran tertentu.

Coba bayangin deh, kalau kamu hidup di zaman purba, sumber manis mana yang paling bikin kamu penasaran pengen coba? Tulis di kolom komentar ya!

2. Evolusi Rasa Manis: Kenapa Lidah Kita "Terprogram" Suka Manis?

Sekarang kita bahas nih, kenapa sih lidah kita ini kayak punya sensor khusus buat rasa manis? Ini semua ada hubungannya dengan proses evolusi yang panjang banget!

Indera perasa kita berkembang seiring dengan kebutuhan untuk bertahan hidup. Kemampuan untuk mendeteksi rasa pahit membantu kita menghindari racun, rasa asam bisa jadi indikasi buah yang belum matang atau makanan yang basi, rasa asin penting untuk keseimbangan elektrolit, rasa umami menandakan adanya protein, dan rasa manis...

nah, ini dia kunci energinya!

Penelitian di jurnal "Nature Neuroscience" menunjukkan bahwa reseptor rasa manis di lidah kita terhubung langsung ke area otak yang memproses rasa senang dan penghargaan (reward system). Ketika kita merasakan manis, otak kita melepaskan dopamin, neurotransmitter yang membuat kita merasa bahagia dan termotivasi untuk mencari lebih banyak sumber rasa manis tersebut.

Di lingkungan purba, sumber makanan manis adalah indikator sumber energi yang aman dan efisien. Mereka yang lebih menyukai rasa manis cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori, memiliki lebih banyak energi untuk berburu dan bertahan hidup, dan akhirnya memiliki peluang reproduksi yang lebih tinggi.

Jika ada dua orang purba, yang satu suka banget buah manis dan rajin nyari, yang satunya lebih suka daun-daunan pahit. Siapa yang punya lebih banyak energi buat kabur dari kejaran harimau atau mencari makan lebih jauh? Tentu yang doyan manis kan!

Seiring waktu, gen yang membuat kita lebih menyukai rasa manis menjadi lebih umum dalam populasi manusia. Inilah kenapa, bahkan bayi yang baru lahir pun secara naluriah menunjukkan ekspresi senang saat merasakan manis. Ini bukan cuma soal enak, tapi soal "program" evolusi yang sudah tertanam dalam diri kita.

Kamu lebih suka manis yang alami dari buah atau manis yang "buatan" dari kue dan permen? Share alasannya di bawah!

***

Minggu depan aku post bagian 2 dari pembahasan ini. Atau kalo kalian gak sabar nunggu, silahkan cek videonya di channel YouTube Luth7x.

Sampai jumpa di konten berikutnya!


Terimakasih,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Dan bye-bye.

***

Sumber tambahan lainnya:

https://www.smithsonianmag.com/science-nature/humans-the-honey-hunters-9760262/

Komentar

Postingan Paling Populer

4 Hal Yang Gak Diajarin Di Sekolah : Tapi Penting Buat Kalian!

4 HAL YANG GAK DIAJARIN DI SEKOLAH Konten YouTube Saya Yang Membahas Hal Serupa | YouTube: Luth7x

5 Kesalahan Membaca yang Bisa Menghambat Pemahaman

 Pernahkah kamu merasa sudah membaca suatu teks berulang kali, tapi tetap tidak mengerti juga isinya? Atau, kamu membaca dengan cepat, tapi lupa apa yang baru saja dibaca? Kali ini, kita akan membahas 5 kesalahan membaca yang paling umum dan bagaimana cara mengatasinya. Dengan mengetahui kesalahan-kesalahan ini dan memperbaikinya, kamu akan bisa membaca lebih efektif dan memahami informasi dengan lebih baik. *** Membaca adalah keterampilan penting yang kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari belajar, bekerja, hingga mencari informasi, semuanya membutuhkan kemampuan membaca yang baik. Namun, kenyataannya, tidak semua orang memiliki teknik membaca yang efektif. Banyak orang melakukan kesalahan saat membaca yang membuat mereka sulit memahami informasi yang disampaikan. Kesalahan-kesalahan ini bisa berupa kebiasaan buruk yang sudah lama terbentuk atau kurangnya pemahaman tentang cara membaca yang benar.

Kenapa Sekolah Gak Ajarin Segalanya?

  Kenapa Sekolah Gak Ajarin Segalanya? Kenapa Sekolah Gak Ngajarin Segalanya? | YouTube : Luth7x CATATAN LUTH  -  Mungkin judulnya terdengar hiperbola, jadi mau aku disclimer dulu. Maksud kata 'segalanya' di sini adalah hal-hal penting yang sempat aku bahas minggu lalu. Kalo kalian belum baca artikelnya , silahkan baca dulu biar gak salah paham. Pertanyaan 1: Kenapa sekolah gak ngajarin segalanya? Sekolah gak ngajarin segalanya karena ada beberapa faktor sebagai alasannya, diantaranya yaitu: Waktu yang terbatas : Sekolah hanya punya waktu yang terbatas untuk mengajari siswa. Jadi, sekolah harus memilih topik-topik yang dianggap penting untuk dipelajari para siswanya untuk mengefektifkan waktu yang ada. Kemampuan guru : Guru juga memiliki kemampuan yang terbatas. Jadi, sekolah harus menyesuaikan kurikulum dengan kemampuan guru. Kebutuhan dan prioritas masyarakat : Sekolah juga harus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dan priorit...