Langsung ke konten utama

Apa Jadinya Kalo Astronot Kentut di Luar Angkasa?

Kentut Sebenarnya Gak Berbau? | YouTube @Luth7x

Eh, pernah nggak sih kepikiran hal nyeleneh kayak gini, heheh

Kalau astronaut lagi melayang-layang di luar angkasa yang sepi itu, terus tiba-tiba...

Nah, bau 'spesial' itu kira-kira bakal ke mana ya?

Di Bumi kan gampang tuh, begitu keluar langsung nyampur sama udara, ketiup angin, eh tahu-tahu udah ilang aja baunya. Atau mungkin... malah kecium temen sebelah? Hehehe...

***

1. Apa itu kentut?

Nah, sebelum kita makin jauh melayang di antariksa, coba deh kita bedah dulu, sebenarnya 'isi' dari 'bom waktu' biologis kita ini apa aja sih?

Jangan salah sangka ya, 'gas' yang kita produksi ini bukan cuma sekadar 'senjata biologis' dengan aroma yang... unik. Lebih dari itu, dia adalah campuran kompleks dari berbagai macam gas yang dihasilkan oleh bakteri baik di usus besar kita saat mereka mencerna makanan yang nggak sempat dicerna di usus kecil. Kira-kira, apa aja sih isinya?

Dikutip dari hellosehat, secara umum, 99% dari gas yang dikeluarkan saat buang angin adalah kombinasi dari nitrogen (N2), hidrogen (H2), oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), dan metana.

Dan fakta menariknya adalah sebagian besar dari gas tersebut tidak memiliki bau. Dan bau yang kita cium dari kentut itu berasal dari jenis makanan tertentu. Kalian pasti pernah mikir abis makan apa aja sampe keseringan kentut atau kentutnya bau banget?

Karena konsumsi makanan tertentu juga berpengaruh pada bau kentut. Disebutkan bahwa menkonsumsi makanan tinggi serat juga bisa membuat kentut kita semakin bau. Makanan lain yang juga menyebabkan kentut contohnya seperti kacang-kacangan dan anggur.

Selain itu, si 'aktor utama' yang bikin kita auto-menjauh kalau mencium baunya, itu biasanya adalah senyawa sulfur dalam jumlah kecil, seperti hidrogen sulfida (H₂S) dan merkaptan. Senyawa-senyawa inilah yang punya aroma 'khas' yang bisa bikin mata berair.

Dan mikrobioma dalam tubuh setiap orang itu unik, alis gak sama, mirip seperti sidik jari. Ada sekitar 39 triliun mikroba yang bercampur dan memengaruhi pencernaan, kekebalan tubuh, dan banyak proses manusia lainnya.

Menarik kan? Ternyata di balik 'kesederhanaannya', 'gas' ini menyimpan rahasia mikrobiologi yang kompleks. Tapi, gimana jadinya kalau gas ini diproduksi di lingkungan yang sama sekali berbeda, di tubuh seorang astronaut di ruang hampa?


2. Sistem pencernaan astronot di luar angkasa

Nah, ini dia pertanyaan seru selanjutnya! Apakah proses pembentukan 'gas' di perut astronaut itu sama aja kayak kita di Bumi? Apakah gravitasi mikro punya pengaruh?

Secara fundamental, proses pencernaan makanan dan produksi gas di usus astronaut seharusnya sih nggak jauh beda dengan kita di Bumi. Bakteri-bakteri di usus mereka tetap akan bekerja mencerna sisa-sisa makanan dan menghasilkan gas sebagai produk sampingan. Tapi, ada beberapa faktor lingkungan di luar angkasa yang mungkin bisa sedikit memengaruhi.

Salah satunya adalah perubahan pola makan. Astronot biasanya punya diet khusus yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi mereka dalam kondisi ekstrem dan meminimalkan produksi limbah. Ini bisa saja berpengaruh pada jenis bakteri yang dominan di usus dan jenis gas yang dihasilkan.

Selain itu, gravitasi mikro juga bisa memainkan peran, meskipun mungkin nggak signifikan dalam hal produksi gas itu sendiri.

Di Bumi, gravitasi membantu memisahkan cairan dan gas di dalam perut. Di luar angkasa, gelembung gas mungkin bergerak lebih bebas dan bercampur dengan cairan, yang secara nggak langsung bisa memengaruhi sensasi perut kembung atau bagaimana 'gas' itu dikeluarkan.

Namun, pemisahan cairan gas ini berpengaruh pada organ pencernaan bagian atas, alias untuk sendawa. Aku belum nemu artikel yang membahas pengaruh gravitasi terhadap pemisahan cairan dan gas di dalam usus. Karena tubuh kita punya otot yang mampu mendorong makan dan sisa produksi lainnya, sehingga gravitasi mungkin bukan penghalang.

Namun, artikel dari PBS News ini bisa menjawab sedikit. Dalam artikel, Scott Kelly menjadi narasumber mereka. Ia merupakan seorang astronot yang tinggal di luar angkasa selama satu tahun, dengan tujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam tubuhnya.

Dikutip dari PBS News, saat Scott Kelly berada di orbit, mikroba yang ditemukan di ususnya berubah secara signifikan dari jenis yang ditemukan para peneliti di darat. Dalam beberapa bulan setelah kembali ke Bumi, perubahan ini benar-benar berbalik, mengembalikan mikrobiomanya ke keadaan normal.

Jadi, meskipun 'pabrik gas' di dalam perut astronaut mungkin tetap bekerja seperti biasa, lingkungan antariksa bisa membawa sedikit 'bumbu' tambahan dalam prosesnya. Sekarang, mari kita lihat bagaimana 'produk' akhir ini ditangani di lingkungan yang benar-benar ekstrem!


3. Teknologi pakaian astronot

Pakaian antariksa itu bukan cuma sekadar kostum keren buat jalan-jalan di bulan atau di stasiun luar angkasa. Di dalamnya ada teknologi super canggih yang dirancang untuk menjaga astronaut tetap hidup dan nyaman di lingkungan yang sangat berbeda. Nah, gimana caranya mereka mengatasi 'ancaman' bau tak sedap dari dalam?

Pakaian astronot dikenal memiliki kemampuan pengolahan limbah yang baik, begitu juga dengan pesawat atau stasiun luar angkasa mereka.

Untuk 'urusan' gas, sistem ventilasi di dalam pakaian antariksa akan terus-menerus mengalirkan udara melalui filter khusus. Sistem ventilasi ini dirancang untuk menjaga kualitas udara di dalam helm dan pakaian tetap bersih dan aman untuk dihirup dalam jangka waktu yang lama selama misi extravehicular activity (EVA) atau spacewalk.

Walaupun demikian, pakaian astronot ini masih terus dikembangkan. Berdasarkan beberapa artikel menyebutkan jika astronot harus memakai popok saat melakukan spacewalk. Beberapa pemberitaan juga mengatakan jika para ilmuan sedang mengembangkan pakaian dengan 'toilet' di dalamnya.

Dan sayangnya, aku gak bisa menemukan sumber yang jelas tentang pengelolaan kentut baik itu di pakaian astronot maupun di stasiun luar angkasa. Namun, kentut sendiri bisa menjadi ancaman karena bisa merusak peralatan dan mudah terbakar.

Di laman CNN dikatakan juga jika kentut akan tetap bau dan hanya berputar di sekitar pelaku.

Dalam sebuah sesi tanya jawab di halaman Quora, Frost, seorang instruktur astronot dari NASA, menjelaskan bahwa baju astronaut sudah dilengkapi dengan penyaring bernama LiOH untuk menghapus gas beracun seperti metana dan karbon dioksida. Sehingga akan jauh lebih aman membuang gas saat berada di dalamnya.

Selain itu, perlu diingat kembali bahwa pola makan astronot sendiri telah diatur untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan masalah buang angin ini tentunya diperhitungkan.


4. Dampak gas terhadap peralatan antariksa

Pesawat luar angkasa, satelit, dan berbagai instrumen di antariksa itu dirancang dengan presisi tinggi dan sangat sensitif terhadap kontaminasi. Nah, apakah 'gas' yang dikeluarkan astronaut (atau mungkin kebocoran kecil dari sistem pendukung kehidupan) bisa jadi masalah buat mereka?

Dalam kondisi normal, dengan sistem pengelolaan limbah yang berfungsi baik, 'gas' dari astronaut seharusnya nggak jadi ancaman signifikan buat peralatan di luar pesawat. 'Keluaran' mereka akan tertampung dan diolah di dalam sistem pakaian atau pesawat.

Tapi, kita perlu mempertimbangkan skenario ekstrem, misalnya kebocoran besar pada sistem pembuangan limbah atau pakaian antariksa. Dalam kasus seperti itu, sejumlah besar gas bisa terlepas ke lingkungan sekitar pesawat atau stasiun luar angkasa.

Gas-gas seperti metana dan amonia (yang mungkin ada dalam jejak kecil) bisa berpotensi mencemari sensor optik atau permukaan sensitif pada instrumen ilmiah atau teleskop. Lapisan tipis kontaminan bisa mengurangi kinerja mereka secara signifikan.

Jadi, meskipun 'ancaman' langsung dari 'gas' astronaut mungkin kecil dalam kondisi normal, potensi dampaknya terhadap peralatan sensitif tetap menjadi pertimbangan penting dalam desain dan operasional misi luar angkasa.

***

Seiring dengan ambisi umat manusia untuk menjelajahi ruang angkasa lebih jauh dan lebih lama, termasuk misi ke Mars, pengelolaan limbah tubuh astronaut, termasuk 'gas' yang kita bahas ini, akan menjadi semakin krusial. Apa saja implikasinya untuk misi jangka panjang?

Untuk misi yang berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, efisiensi dan keandalan sistem pengelolaan limbah akan menjadi prioritas utama. Sistem harus mampu menangani semua jenis limbah secara efektif, meminimalkan penggunaan sumber daya (seperti air dan energi), dan mencegah kontaminasi lingkungan di dalam pesawat atau habitat.

Daur ulang limbah juga akan menjadi sangat penting. Para ilmuwan sedang mengembangkan teknologi untuk mengubah limbah, menjadi sumber daya yang berguna seperti air dan nutrisi. Mungkin di masa depan, 'gas' yang dihasilkan juga bisa diolah dan dimanfaatkan kembali.

Jadi, meskipun terdengar sepele, masalah limbah astronaut di ruang angkasa punya implikasi yang cukup signifikan untuk masa depan eksplorasi antariksa jangka panjang. Teknologi pengelolaan limbah yang canggih dan efisien akan menjadi fondasi penting bagi keberhasilan misi-misi ambisius kita di masa depan.

***

Gimana, guys? Ternyata bahasan soal 'kentut' di luar angkasa ini seru dan penuh ilmu ya!

Dari komposisi gasnya, fisiologinya di lingkungan tanpa gravitasi, sampai teknologi canggih di balik pakaian antariksa dan implikasinya untuk misi masa depan. Luar biasa kan?

Coba deh tulis di kolom komentar, hal paling menarik apa yang baru kalian tahu dari blog ini? Atau mungkin kalian punya pertanyaan 'nyeleneh' lainnya tentang antariksa?

Jangan lupa like, share, dan subscribe channel YouTube aku untuk konten menarik lainnya.

Terimakasih, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, dan bye-bye.

Komentar

Postingan Paling Populer

4 Hal Yang Gak Diajarin Di Sekolah : Tapi Penting Buat Kalian!

4 HAL YANG GAK DIAJARIN DI SEKOLAH Konten YouTube Saya Yang Membahas Hal Serupa | YouTube: Luth7x

5 Kesalahan Membaca yang Bisa Menghambat Pemahaman

 Pernahkah kamu merasa sudah membaca suatu teks berulang kali, tapi tetap tidak mengerti juga isinya? Atau, kamu membaca dengan cepat, tapi lupa apa yang baru saja dibaca? Kali ini, kita akan membahas 5 kesalahan membaca yang paling umum dan bagaimana cara mengatasinya. Dengan mengetahui kesalahan-kesalahan ini dan memperbaikinya, kamu akan bisa membaca lebih efektif dan memahami informasi dengan lebih baik. *** Membaca adalah keterampilan penting yang kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari belajar, bekerja, hingga mencari informasi, semuanya membutuhkan kemampuan membaca yang baik. Namun, kenyataannya, tidak semua orang memiliki teknik membaca yang efektif. Banyak orang melakukan kesalahan saat membaca yang membuat mereka sulit memahami informasi yang disampaikan. Kesalahan-kesalahan ini bisa berupa kebiasaan buruk yang sudah lama terbentuk atau kurangnya pemahaman tentang cara membaca yang benar.

Kenapa Sekolah Gak Ajarin Segalanya?

  Kenapa Sekolah Gak Ajarin Segalanya? Kenapa Sekolah Gak Ngajarin Segalanya? | YouTube : Luth7x CATATAN LUTH  -  Mungkin judulnya terdengar hiperbola, jadi mau aku disclimer dulu. Maksud kata 'segalanya' di sini adalah hal-hal penting yang sempat aku bahas minggu lalu. Kalo kalian belum baca artikelnya , silahkan baca dulu biar gak salah paham. Pertanyaan 1: Kenapa sekolah gak ngajarin segalanya? Sekolah gak ngajarin segalanya karena ada beberapa faktor sebagai alasannya, diantaranya yaitu: Waktu yang terbatas : Sekolah hanya punya waktu yang terbatas untuk mengajari siswa. Jadi, sekolah harus memilih topik-topik yang dianggap penting untuk dipelajari para siswanya untuk mengefektifkan waktu yang ada. Kemampuan guru : Guru juga memiliki kemampuan yang terbatas. Jadi, sekolah harus menyesuaikan kurikulum dengan kemampuan guru. Kebutuhan dan prioritas masyarakat : Sekolah juga harus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dan priorit...