| Bagaimana Respon Biologis Tubuh Kita Terhadap Gula? | YouTube @luth7x |
Halo semuanya!
Di konten sebelumnya kita udah bahas alasan manusia purba lebih memilih makanan manis dari buah, madu, dan ubi karena sumber makanan lain cukup sulit didapatkan terutama daging hewan. Karena harus ada effort lebih buat dapetinnya. Dan sekarang kita lanjutin pembahasannya tentang respon biologis tubuh kita terhadap gula.
***
3. Respon Biologis Terhadap Gula: Lebih dari Sekadar Rasa di Lidah
Oke, sekarang kita masuk ke "dapur" tubuh kita nih, buat lihat apa aja yang terjadi setelah kita makan yang manis-manis. Ini bukan cuma soal lidah yang senang, tapi ada reaksi kimiawi yang kompleks di dalam tubuh!
Begitu kita mengonsumsi makanan atau minuman manis, gula sederhana seperti glukosa dan fruktosa dengan cepat diserap ke dalam aliran darah melalui usus halus. Akibatnya, kadar gula darah (glukosa darah) kita meningkat.
Peningkatan kadar gula darah ini kemudian memicu pankreas untuk melepaskan hormon yang sangat penting bernama insulin. Insulin bertugas seperti "kunci" yang membuka pintu sel-sel tubuh kita, memungkinkan glukosa masuk dan digunakan sebagai sumber energi. Insulin juga membantu menyimpan kelebihan glukosa di hati dan otot dalam bentuk glikogen untuk digunakan nanti.
Penelitian di "American Journal of Clinical Nutrition" menyoroti betapa efisiennya tubuh kita dalam memproses gula sederhana sebagai sumber energi yang cepat. Namun, masalah muncul ketika asupan gula melebihi kapasitas tubuh untuk memprosesnya dengan baik.
Selain efek pada gula darah dan insulin, rasa manis juga memicu pelepasan hormon lain di usus yang memberikan sinyal kenyang ke otak. Tapi, seringkali efek ini tidak sekuat efek dopamin yang membuat kita terus ingin makan manis, terutama pada makanan manis olahan yang tinggi kalori tapi rendah serat.
Pakar endokrinologi, Dr. Robert Lustig, sering menekankan bahwa fruktosa, salah satu jenis gula sederhana yang banyak ditemukan dalam minuman manis dan sirup jagung tinggi fruktosa, diproses berbeda oleh hati dibandingkan glukosa. Konsumsi fruktosa berlebihan dapat membebani hati dan berkontribusi pada masalah kesehatan jangka panjang.
Pernah ngerasa "energi spike" abis minum atau makan manis, tapi abis itu malah jadi lemes lagi? Kenapa ya kira-kira? Coba tebak di kolom komentar!
4. Perbandingan Konsumsi Gula Dulu dan Sekarang: Dari "Barang Mewah" Jadi Kebutuhan Sehari-hari?
Nah, di sinilah perbedaannya mencolok banget! Dulu, sumber manis itu langka dan didapatkan dengan susah payah. Sekarang? Wah, gula ada di mana-mana!
Jika di zaman purba, mendapatkan sedikit madu atau buah matang adalah sebuah "kemewahan" energi, kini gula telah menjadi komoditas massal yang ditambahkan ke berbagai jenis makanan dan minuman olahan. Dari minuman ringan, sereal sarapan, saus, roti, hingga makanan ringan, hampir semuanya mengandung gula tambahan.
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa konsumsi gula tambahan secara global telah meningkat drastis dalam beberapa dekade terakhir. Rata-rata, orang modern mengonsumsi jauh lebih banyak gula per hari dibandingkan nenek moyang kita dalam setahun!
Studi antropologi gizi membandingkan pola makan masyarakat pemburu-pengumpul modern dengan masyarakat industri. Hasilnya menunjukkan bahwa asupan gula pada masyarakat pemburu-pengumpul sangat rendah dan berasal murni dari sumber alami. Sementara itu, masyarakat industri memiliki asupan gula yang sangat tinggi, terutama dari gula tambahan dalam makanan olahan.
Nenek moyang kita mungkin cuma ketemu rasa manis beberapa kali dalam seminggu, itu pun dalam jumlah kecil. Kita? Bisa jadi setiap hari, bahkan setiap jam, kita terpapar gula tambahan tanpa sadar!
Coba sebutin satu makanan atau minuman olahan yang menurut kamu "diam-diam" mengandung banyak gula!
5. Dampak Negatif Konsumsi Gula Berlebihan di Era Modern
Sayangnya, "berkah" evolusi yang membuat kita suka manis ini jadi masalah besar di era modern. Konsumsi gula yang berlebihan, jauh melampaui apa yang tubuh kita evolusioner "siap" untuk tangani, membawa berbagai dampak negatif bagi kesehatan.
Konsumsi gula berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, karena kalori kosong dari gula bisa menumpuk jadi lemak tubuh. Selain itu, asupan gula yang tinggi dapat menyebabkan resistensi insulin, kondisi di mana sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan dalam prevalensi diabetes di Indonesia.
- Berdasarkan usia: Prevalensi diabetes cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Kelompok usia 45 tahun ke atas menunjukkan angka prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Namun, sayangnya, kasus diabetes pada usia muda juga menunjukkan tren peningkatan.
- Berdasarkan tipe: Mayoritas kasus diabetes di Indonesia adalah diabetes tipe 2, yang seringkali terkait dengan gaya hidup tidak sehat termasuk pola makan tinggi gula dan kurang aktivitas fisik. Diabetes tipe 1, yang merupakan kondisi autoimun di mana tubuh tidak menghasilkan insulin, memiliki prevalensi yang lebih rendah.
Diabetes bukan hanya soal kadar gula darah tinggi. Komplikasi jangka panjangnya bisa sangat serius, termasuk penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, kerusakan saraf, dan kebutaan.
Selain diabetes dan obesitas, konsumsi gula berlebihan juga berkontribusi pada penyakit jantung, kerusakan gigi (karies), perlemakan hati non-alkoholik, dan bahkan diduga berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.
Kutipan dari Dr. Sidartawan Soegondo, seorang ahli endokrinologi terkemuka di Indonesia, sering menekankan pentingnya pencegahan dan pengelolaan diabetes melalui perubahan gaya hidup, termasuk pembatasan asupan gula.
Apakah kamu punya anggota keluarga atau teman yang punya diabetes? Apa tantangan terbesar yang mereka hadapi dalam mengelola kondisinya? Share pengalamanmu (jika nyaman) di kolom komentar, kita saling berbagi dan mendukung!
6. Strategi Mengelola Keinginan Makan Gula: Balikin Kendali ke Tangan Kita!
Nah, setelah tahu dampaknya, gimana dong caranya biar kita nggak terus-terusan "dikendalikan" sama keinginan makan manis ini? Tenang, ada beberapa strategi yang bisa kita coba!
- Pilih Manis Alami: Utamakan sumber manis dari buah-buahan. Selain manis, buah juga mengandung serat, vitamin, dan mineral yang baik buat tubuh.
- Makan Teratur: Seperti yang udah kita bahas sebelumnya, jangan biarkan perut terlalu lapar. Makan teratur dengan gizi seimbang bisa membantu menjaga kadar gula darah stabil dan mencegah keinginan makan manis yang tiba-tiba.
- Perbanyak Protein dan Serat: Makanan tinggi protein dan serat membuat kita merasa kenyang lebih lama, sehingga mengurangi keinginan untuk ngemil makanan manis.
- Kelola Stres: Stres seringkali jadi pemicu keinginan makan makanan yang nyaman, termasuk yang manis-manis. Cari cara sehat untuk mengelola stres seperti olahraga, meditasi, atau melakukan hobi.
- Tidur Cukup: Kurang tidur dapat mengganggu hormon yang mengatur nafsu makan, yang bisa meningkatkan keinginan makan makanan tinggi kalori dan gula.
- Baca Label Makanan: Jadi detektif lagi! Perhatikan kandungan gula tambahan dalam makanan dan minuman olahan. Pilih produk dengan kandungan gula yang lebih rendah.
- Alihkan Perhatian: Saat keinginan makan manis muncul, coba alihkan perhatian dengan melakukan aktivitas lain yang kamu sukai.
- Jangan "Terlalu Ketat": Sesekali memanjakan diri dengan makanan manis favorit tidak masalah, asalkan dalam batas wajar. Yang penting adalah konsistensi dalam menerapkan pola makan sehat secara keseluruhan.
Ahli gizi, misalnya Dr. Tan Shot Yen, sering menyarankan untuk "kembali ke makanan utuh" dan mengurangi konsumsi makanan olahan yang tinggi gula dan bahan tambahan lainnya.
Strategi mana nih yang paling pengen kamu coba atau udah kamu lakuin buat ngontrol keinginan makan manis? Share tips kamu juga ya!
***
Masih ada dua poin lagi yang belum aku bahas di bagian dua ini. Dan akan aku upload Minggu depan. Tapi kalo kalian udah gak sabar, bisa di cek kontennya di channel YouTube Luth7x.
Sampai jumpa di konten berikutnya!
Terimakasih,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dan bye-bye.
***
Sumber lainnya:
https://ywcagreenwich.org/#:~:text=The%20Bitter%20Truth,the%20way%20that%20alcohol%20can
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20800122/
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diabetes?hl=id-ID
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20240110/5344736/saatnya-mengatur-si-manis/?hl=id-ID
Komentar
Posting Komentar